Kumis dan Sebuah Keangkeran
Februari 19, 2008
Secara filosofis, kumis adalah suatu kumpulan dari bulu-bulu yang tumbuh diantara hidung dan mulut. Berfungsi sebagai penahan ingus yang keluar dari hidung agar tidak mengalir sampai ke mulut. Itulah fungsi primernya. Fungsi sekundernya adalah sebuah lambang atau simbol dari identitas diri seorang manusia. Contoh: Kumis seperti lele adalah identitas dari seorang Tukul Arwana. Kumis hanya ditengah merupakan identitas dari Hitler sampai ke Jojon. Kumis yang tertata rapi itu identitas dari Pak Rahmat (Manajer Keuangan saya di kantor) He..He..He.. Sedangkan fungsi tertiernya adalah sebagai penambah keangkeran dan keseraman muka. Menurut hasil survei yang saya lakukan sendiri, rata-rata para pria akan kehilangan keberanian dan kepercayaan dirinya jika berhadapan dengan bokapnya pacar atau calon istri yang memiliki kumis baplang nan lebat. Begini contohnya :
Herdy (H)
Bokapnya Fika (BF)
H : “Pak, mmm… saya mau bicara sebentar.”
BF : “Hmm… iya” (dengan suara berat berirama lambat sambil memainkan kumis)
H : “Sa..saya…mmm…saya…mmm…” (adrenalin semakin meningkat)
BF : “Iya?” (melihat dengan sorot mata tajam)
H : “Euuu… Sa..saya mau ngajak Fika…euuu…”
BF : (masih memainkan kumis lebatnya dan menatap dengan tatapan nan tajam)
H : (Jantung berdetak lebih cepat) (Lutut gemetaran) (Perut mual dan sakit)
BF : “Iya kenapa?”
H : “Sa…saya mau ngajak Fika nonton…”
BF : “Nonton apa?” (Suara menggelegar dan mata semakin menatap tajam)
H : “No…nonton bola di TV pak.” (Panik, gugup, dan ciut menjadi satu)
BF : “Oh. Yah, silahkan.” (Tersenyum dengan manisnya)
Dan rencana malam mingguan nonton di 21 pun gagal total dengan suksesnya.